Return to site

Perkembangan Kopi Jawa di Indonesia

Saat ini kopi tidak hanya jadi idola para kaum Adam saja, bahkan banyak juga wanita yang gemar mengkonsumsi minuman berwarna hitam pekat ini.

· News

Saat ini kopi tidak hanya jadi idola para kaum Adam saja, bahkan banyak juga wanita yang gemar mengkonsumsi minuman berwarna hitam pekat ini. Selain rasa pahitnya yang khas sehingga diminati banyak orang, minuman ini juga sudah menjadi bagian dari gaya hidup di kota-kota besar. Namun, banyak orang yang melupakan efek samping dari kopi itu sendiri, biasanya kopi akan berdampak buruk bagi mereka yang memiliki masalah dengan lambung (maag).

Biji kopi Indonesia itu kelebihannya varietasnya banyak, beraneka ragam. Apalagi sekarang ini kan semakin banyak kafe buka dimana-mana jadi dari sisi petaninya sekarang sudah mulai pelan-pelan meningkatkan kualitas. Jadi sekarang udah mulai bagus, ada peningkatan, ada improve, dan makin lama makin beragam.

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao

Mungkin masyarakat di Indonesia, belum semuanya mengetahui bahwa di Indonesia mempunyai Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka). Sejak didirikan pada tanggal 1 Januari 1911 dengan nama Besoekisch Proefstation, menjadikan penelitian kopi dan kakao sudah sangat lama dilakukan di Indonesia, sehingga layak jika Indonesia menjadi championship di produksi kopi dan kakao di dunia.

Terjadinya dualisme menejerial, menimbulkan masalah tersendiri bagi kelembagaan Puslitkoka. Dimana secara fungsional berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Republik Indonesia, sedangkan secara struktural dikelola oleh Lembaga Riset Perkebunan Indonesia – Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (LRPI–APPI).

Dari 70 sampel kopi asal Indonesia yang diikutkan, ada 20 sampel yang memiliki nilai tertinggi. Enam diantaranya berasal dari Jawa Barat, yaitu Gunung Puntang (yang dikembangkan Ayi Sutedja, juara), Mekar Wangi (Wildan, peringkat kedua), Malabar Honey (Slamet P, posisi keempat), Java Cibeber (Asep, urutan ke-9), West Java Pasundan Honey (Dedi Gunung Tilu, ke-11), dan Andungsari (Wildan, ke-17).

Gubernur Heryawan memberikan apresiasi terhadap apa yang telah diraih petani kopi Jawa Barat sehingga akan membawa dampak positif bagi pengembangan biji kopi yang otentik dari Jawa Barat nantinya.

Kopi Jabar yang diberi nama Java Preanger menonjol karena menjadi kopi yang bibitnya langsung dibawa dari induk terbaik di Kenya tanpa dibudidayakan dulu di lokasi lain. Adapun kopi jenis lain dari luar Jawa Barat sempat tersebar dulu sebelum dibudidayakan di daerahnya.

All Posts
×

Almost done…

We just sent you an email. Please click the link in the email to confirm your subscription!

OKSubscriptions powered by Strikingly